Kedudukan Harta Bawaan dan Harta Bersama setelah Perceraian: Studi Perjanjian Pranikah
DOI:
https://doi.org/10.37276/sjh.v4i2.226Kata Kunci:
Harta Bawaan, Harta Bersama, Pembagian Harta, Perceraian, Perjanjian PranikahAbstrak
Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji dan menganalisis kedudukan harta bawaan dan harta bersama dalam perjanjian pranikah serta akibat hukum setelah terjadinya perceraian. Penelitian hukum normatif ini menggunakan pendekatan perundang-undangan dan komparatif dengan teknik studi literatur. Hasil penelitian menunjukkan bahwa harta bawaan dan bersama memiliki kedudukan yang berbeda dalam perkawinan. Harta bawaan adalah harta yang dimiliki sendiri-sendiri oleh suami atau istri sebelum menikah, sedangkan harta bersama mengacu pada harta yang diperoleh selama perkawinan dan dimiliki bersama oleh suami dan istri. Pada saat perceraian, harta bersama menjadi objek pembagian, sedangkan harta bawaan tetap dikecualikan dari pembagian kecuali diatur dalam perjanjian pranikah. Jika perceraian terjadi tanpa perjanjian pranikah, maka pembagian harta bersama harus dilaksanakan setelah diperoleh putusan pengadilan yang telah berkekuatan hukum tetap. Di sisi lain, meskipun perjanjian pranikah berfungsi sebagai alat bukti yang sah, hakim dapat mengabaikannya karena beberapa alasan. Pertimbangan hakim tersebut dapat memberikan akibat hukum terhadap perjanjian pranikah dalam suatu putusan perceraian. Oleh karena itu, direkomendasikan agar calon pasangan, notaris, dan hakim, perlu memahami perbedaan antara harta bawaan dan bersama serta akibat hukum terkait perceraian. Calon pasangan direkomendasikan untuk membuat perjanjian pranikah yang jelas dan terperinci mengenai pembagian harta jika terjadi perceraian, sehingga mengurangi potensi konflik dan perselisihan. Notaris harus membantu calon pasangan dalam menyusun perjanjian yang adil berdasarkan undang-undang yang berlaku. Hakim, pada gilirannya, perlu mempertimbangkan perjanjian pranikah secara objektif dan memastikan bahwa keputusan sejalan dengan kepentingan kedua belah pihak dan prinsip keadilan.
Unduhan
Referensi
Assidik, A., & Gassing, A. Q. (2020). Tinjauan Hukum Islam dan Hukum Positif terhadap Prenuptial Agreement atau Perjanjian Pra Nikah. Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam, 1(1), 1-16. https://doi.org/10.24252/qadauna.v1i1.11424
Bondo, K. K., Kabozya, J. K. W., & Katalay, V. M. (2020). Etude Jurisprudentielle de la Liquidation Du Régime Matrimonial Des Époux Pour cause de Mort Face à la Succession. Kas African Law Study Library, 7(1), 36-44. https://doi.org/10.5771/2363-6262-2020-1-36
Cenery, J. P. (2019). Akibat Hukum Pembuatan Akta Perjanjian Kawin terhadap Harta Perkawinan. Justicia Sains: Jurnal Ilmu Hukum, 4(1), 53-63. https://doi.org/10.24967/jcs.v4i1.425
Colonial Regulations, Staatsblad Number 23 of 1847 on the Burgerlijk Wetboek voor Indonesie/the Civil Code. https://www.dilmil-jakarta.go.id/wp-content/uploads/2018/09/Kitab-Undang-Undang-Hukum-Perdata.pdf
Decision of the District Court of South Jakarta Number 526/PDT/G/2012/PN.Jkt.Sel. https://putusan3.mahkamahagung.go.id/direktori/putusan/89e2ee5f351ee6e43d2936c61e8a9ec0.html
Gordana, K.-S. (2012). Notary Public Authority in Marital/Partnership Relations. Zbornik Radova: Pravni Fakultet u Novom Sadu, 46(2), 87-101. https://doi.org/10.5937/zrpfns46-2600
Harahap, M. Y. (2006). Kedudukan Kewenangan dan Acara Peradilan Agama: Undang-Undang No. 7 Tahun 1989. Sinar Grafika.
Iswantoro, I. (2015). Penyelesaian Sengketa Harta Perkawinan Pasca Putusan Mahkamah Konstitusi Nomor 69/PUU-XIII/2015. Al-Ahwal: Jurnal Hukum Keluarga Islam, 11(1), 43-58. https://doi.org/10.14421/ahwal.2018.11104
Law of the Republic of Indonesia Number 1 of 1974 on Marriage (State Gazette of the Republic of Indonesia of 1974 Number 1, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 3019). https://www.dpr.go.id/jdih/index/id/742
Law of the Republic of Indonesia Number 30 of 2004 on the Office of Notary Public (State Gazette of the Republic of Indonesia of 2014 Number 117, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 4432). https://www.dpr.go.id/jdih/index/id/31
Law of the Republic of Indonesia Number 2 of 2014 on the Amendment to Law Number 30 of 2004 on the Office of Notary Public (State Gazette of the Republic of Indonesia of 2014 Number 3, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 5491). https://www.dpr.go.id/jdih/index/id/927
Law of the Republic of Indonesia Number 16 of 2019 on Amendment to Law Number 1 of 1974 on Marriage (State Gazette of the Republic of Indonesia of 2019 Number 186, Supplement to the State Gazette of the Republic of Indonesia Number 6401). https://www.dpr.go.id/jdih/index/id/1753
Mangarengi, A. A., & Hamzah, Y. A. (2021). The Position of the Marriage Law on Interfaith Marriages Abroad. SIGn Jurnal Hukum, 3(1), 65-83. https://doi.org/10.37276/sjh.v3i1.127
Prins, W. F. (1977). A. H. Huussen jr., Bronnen van de Nederlandse Codificatie sinds 1798. Huwelijks- en Huwelijksgoederenrecht tot 1820. De Codificatie van het Nederlandse Huwelijksrecht 1795-1838. Geschiedenis en Analyse van de Ontwikkeling van de Huwelijkswetgeving en van de Opvattingen Omtrent Huwelijk en Gezin op het Eind van de Achttiende en het Begin van de Negentiende Eeuw. BMGN-Low Countries Historical Review, 92(1), 108-112. https://doi.org/10.18352/bmgn-lchr.1980
Qamar, N., & Rezah, F. S. (2020). Metode Penelitian Hukum: Doktrinal dan Non-Doktrinal. CV. Social Politic Genius (SIGn).
Radzyner, A. (2018). Jewish Law, State, and Social Reality: Prenuptial Agreements for the Prevention of Divorce Refusal in Israel and The United States. Journal of Law and Religion, 33(1), 61-88. https://doi.org/10.1017/jlr.2018.15
Rahman, S., Qamar, N., & Kamran, M. (2020). Efektivitas Pembagian Harta Bersama Pasca Perceraian: Studi Kasus Perkawinan Poligami. SIGn Jurnal Hukum, 1(2), 104-118. https://doi.org/10.37276/sjh.v1i2.60
Sampara, S., & Husen, L. O. (2016). Metode Penelitian Hukum. Kretakupa Print.
Sembiring, A. N., Sinaga, A. K., & Hariandja, S. B. (2019). Analisis Yuridis Batalnya Perjanjian Pra-Nikah dalam Perkawinan Campuran (Putusan Perkara No: 526/PDT/G/2012/PN.JKT.SEL). Jurnal Darma Agung, 27(1), 774-784. http://dx.doi.org/10.46930/ojsuda.v27i1.132
Wellenhofer, M. (2016). Regelungsaufgabe Paarbeziehungen: Was kann, was darf, was will der Staat? Journal of Family Research, 28(2), 162-177. https://doi.org/10.3224/zff.v28i2.3














